
BALI – Kongres Nasional XI Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Tahun 2026 resmi dibuka di Ballroom Istana Agung Jimbarwang, Bali, Jumat (5/6/2026). Forum tertinggi organisasi kepemudaan berhaluan Marhaenis ini dihadiri oleh delegasi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GPM dari seluruh penjuru Indonesia.
Kongres yang dijadwalkan berlangsung pada 5-7 Juni 2026 ini menjadi momentum krusial bagi GPM. Agenda utama forum ini adalah menentukan arah perjuangan organisasi, memperkuat konsolidasi kader, serta merumuskan strategi taktis dalam menghadapi tantangan kebangsaan di masa depan.
Penguatan Ideologi dan Pembekalan Pancasila
Pada hari pertama, peserta langsung mendapatkan pembekalan lewat Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila yang disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, S.I.P., dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata dalam menjaga ideologi bangsa, DPP GPM menyerahkan penghargaan khusus kepada pihak BPIP.
Ketua Panitia Kongres XI GPM, Abdur Rajab Saputra, menegaskan bahwa kongres kali ini digelar di tengah situasi nasional yang penuh dinamika. Bangsa Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan mendasar seperti ketimpangan ekonomi, pelemah kedaulatan politik, hingga ancaman terhadap identitas nasional.
"Karena itu, GPM mengusung tema 'Trisakti Menjawab Tantangan Zaman'. Ini adalah penegasan komitmen ideologis kami terhadap gagasan besar Bung Karno. Konsep Trisakti—berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan harus diwujudkan nyata dalam gerakan organisasi dan kehidupan berbangsa," ujar Abdur Rajab dalam laporan panitia.
Beberapa agenda strategis yang akan dibahas meliputi:
- Laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2022-2026.
- Pemilihan Ketua Umum dan tim formatur periode 2026-2030.
- Perumusan arah kebijakan strategis organisasi untuk empat tahun ke depan.
Sekretaris Jenderal DPP GPM yang juga anggota DPD/MPR RI utusan Bali, Arya Wedakarna, dalam sambutannya mengupas kembali rekam jejak sejarah pemikiran Bung Karno. Ia mengingatkan bahwa keberadaan istana-istana kepresidenan di Indonesia tidak lepas dari semangat gotong royong kaum nasionalis dan keluarga besar PNI yang ingin menegakkan simbol kedaulatan bangsa.
Arya juga menceritakan kekaguman Bung Karno terhadap peradaban India kuno dan bahasa Sanskerta yang banyak menginspirasi istilah kebangsaan di Indonesia, termasuk kedekatan historis sang Proklamator dengan Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru.
Dalam pidatonya, Arya memetakan posisi strategis daerah di mata Bung Karno: Sumatra sebagai tanah perlawanan, Kalimantan sebagai benteng pertahanan Nusantara, Sulawesi sebagai pemersatu antarpulau, serta Maluku dan Maluku Utara sebagai negeri rempah pemantik perlawanan kolonial. Namun, Bali memiliki tempat yang sangat khusus.
"Bagi Bung Karno, Bali adalah api Indonesia. Api yang dimaksud bukanlah api yang membakar, melainkan api semangat perjuangan, kebudayaan, persatuan, dan nasionalisme yang harus terus menyala dari generasi ke generasi," ungkap Arya.
Ia menambahkan, meski Bali pernah diguncang berbagai ujian sejarah seperti Tragedi Bom Bali, Pulau Dewata terbukti mampu bangkit berkat kekuatan budaya, toleransi, dan persaudaraan masyarakatnya. "Jangan biarkan api Bali redup. Sebab ketika api Bali tetap menyala, yang terjaga bukan hanya martabat masyarakat Bali, tetapi juga semangat Indonesia yang berakar pada keberagaman."
Komitmen Organisasi dan Pembukaan Resmi
Ketua Umum DPP GPM, Drs. Heri Satmoko, ikut menyatakan bahwa Kongres XI ini merupakan kompas utama untuk memperkuat ideologi dan melahirkan nakhoda baru yang siap membawa GPM berkontribusi bagi kemajuan nasional.
Prosesi pembukaan kongres ditandai secara resmi dengan penandatanganan prasasti Kongres XI Gerakan Pemuda Marhaenis oleh Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, yang hadir memberikan sambutan kehormatan.
Berdasarkan agenda yang dirilis kepanitiaan, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI, Natalius Pigai, dijadwalkan hadir untuk menutup secara resmi seluruh rangkaian kegiatan Kongres XI GPM pada hari terakhir nanti.
Melalui forum nasional ini, GPM optimistis dapat melahirkan kepemimpinan baru yang responsif dan mampu membumikan nilai-nilai Trisakti demi menjaga kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, serta kepribadian bangsa di tengah ketatnya arus globalisasi.
Editor Redaksi MakianoPost