Jejak Langka Sang Mahaguru : Pembuka Jalan Kebudayaan Progresif di Ternate

Sebarkan:
Jejak Langka Sang Mahaguru : Pembuka Jalan Kebudayaan Progresif di Ternate
Oleh: Sofyan Hidayat
"Pemikir terbesar yang masih hidup telah berhenti berpikir. Ia ditemukan tertidur dengan tenang di kursi—tetapi untuk selamanya." Kalimat Friedrich Engels saat melepas kepergian Karl Marx itu terasa begitu menyesakkan dada hari ini. Ternate kehilangan salah satu putra terbaiknya, seorang subyek bernyali besar : Abdul Kadir D. Arif, yang akrab kita sapa Ko Det.

Selamat jalan, Sang Mahaguru. Engkau memilih jalanan berdebu sebagai mimbar, dan dedikasimu kini menjadi warisan kebudayaan politik yang tak ternilai bagi kaum muda Maluku Utara kalah itu,,! Abdul Kadir D Arif (Ko Det).

Mengenang Ko Det adalah mengenang keberanian Henk Sneevliet atau Adolf Baars. Seperti legenda kiri Belanda itu yang bangkit melawan bangsanya demi keadilan bagi kaum pribumi, Ko Det pulang dari petualangan intelektualnya di Yogyakarta membawa "api" yang membakar semangat zaman.

Tahun 2006 adalah momentum ledakan itu. Di saat nalar kritis kampus mungkin sedang tertidur, Ko Det hadir membawa spektrum politik progresif revolusioner ke daratan Ternate. Melalui Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), ia mengubah lanskap gerakan. Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) dan Unkhair berubah menjadi kawah candradimuka.

Kala itu, Ketika saya sendiri masih dalam perjalanan (baru) meramu perspektif kiri revolusioner sekitar 2008 silam, menjadi saksi Ketika beraktivitas sebagai seorang mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), sebelum hijrah ke Jawa Tengah Yogyakarta.

Dunia kampus menjadi bernyali, Diskusi ditemani kopi bukan lagi sekadar bualan, melainkan dialektika yang membongkar karatan cakrawala berpikir. Kebudayaan bersama diantara Mahasiswa, rasioanalitas, berbagai referensi dan keilmiahan terdengar sangat asik seperi taman bunga yang terlihat indah hampir terjadi disetiap sudut, depan teras dan ruangan kampus. Selain Unkhair, pada saat itu UMMU menjadi sentral, sebab kaulah pembukanya dan ada disana sebagai seorang Dosen Pengajar di Fakultas Tehnik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Sejarah mencatat dinamika yang tak mudah. Kita ingat betul bagaimana perpecahan LMND tahun 2009 menjadi ujian ideologis yang berat. Di tengah arus koalisi politik praktis kala itu, Ko Det mengajarkan kita tentang pilihan sulit namun prinsipil. Ia tetap berada di jalur perjuangan yang konsisten, membina organisasi-organisasi sektoral, diantaranya seperti GAMHAS (Gerakan Mahasiswa Pemberhati Sosial), dalam perjalanannya kemudian, kawan-kawan perempuan yang begitu progeresif membentuk organisasi perempuan yang diberi nama LISMI (Lingkar Studi Mahasiswi), lalu Barisan Pemuda Rakyat (BPR - FOKUS) dibentuk dan dibawah basis LMND,sebagai organisasi progresif pemuda Akehuda Kota Ternate.

Ko Det, orang baik, selow dan mudah

Ia bukan sekadar akademisi di dalam ruang kelas, ia adalah organisator lapangan. Pengalamannya di Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Serikat Pengamen Indonesia (SPI) sekarang menjadi SeBUMI (Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia) pun menjadi rumah politik baginya sewaktu masih menjadi Mahasiswa AKPRIND di Jogja, membentuknya menjadi sosok yang "selow", mudah tersenyum, namun memiliki keteguhan yang gigih dalam merubah paradigma pergerakan mahasiswa maluku utara kala itu.

Dari tangan dinginnya, lahir pemberani-pemberani baru. Muncul aktivis perempuan yang bernyali, hingga pemuda pasar seperti Budi di Gamalama yang terorganisir dalam Organisasi Kaum Miskin Kota (KMK). Ko Det adalah jembatan yang menghubungkan semangat perlawanan terhadap kediktatoran menerangi kaum muda keluar dari kebudayaan-kebudayaan lama (semu), Kaupun bagian dari pelaku berlawan dan lengsernya kediktatoran rejim Orba selama 32 tahun!.

Ia telah menunaikan tugasnya sebagai subyek pembebas yang membawa cahaya keluar dari kebudayaan semu. Kini, sang "pemikir terbesar" di lingkaran kita telah beristirahat. Namun, sejarah yang ia lukis dengan keberanian akan selalu hidup, mengharukan, dan membakar semangat setiap generasi yang membaca jejaknya.

Bismillah, Alfatihah. Istirahatlah dengan tenang di sisi-Nya, Sang Mahaguru.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini